Sore ini langit tampak sayu. Aroma petrichor menyeruak. Rintik hujan yang menari mengantarkan seseorang menemuiku, mengembalikan segenggam hati yang pernah dibawa pergi tanpa permisi. Tak utuh lagi.


Menyebalkan. Aku masih saja menyukai caranya menyapaku. Sosok sederhana itu masih dengan mudah membuat jantungku berdegup kencang.


Mungkin aku hanya sehelai daun di antara rimbunnya cerita hidup yang ia miliki. Sehelai daun yang kian hari kian menguning di antara ranting dan dahan yang begitu kokoh. Dengan mudah terkapar dihempas angin. Kemudian terlupa.


Jangan pikirkan, katanya sore itu. Sekejap membuat neuron-neuron di kepala berlarian ke sana kemari mencari makna dari rangkaian kata yang memunculkan tanda tanya. Ingin sekali kutatap matanya dalam-dalam, meyakini bahwa ia sedang bercanda. Lupakan. Itu maksudnya. Biarkan takdir memainkan perannya sendiri.


Mungkin hatiku sudah dibunuh. Dikoyak, diacak-acak. Dipaksa ikhlas akan hal yang tak ingin kulepas. Tapi bisa kau lihat, senyumku masih bisa terkembang. Bukti bahwa aku berbahagia atas ini semua. Atas jawaban dari penantian yang melelahkan. Atas keraguan harus menanti, atau berhenti.


Baiklah. Mari kita bertaruh dengan takdir. Dengan ikhlas sebagai senjata, dan bahagia sebagai hadiahnya. Tak usah lagi diupayakan, tak usah lagi diperjuangkan. Biarkan.


Terima kasih, Tuan.
Terima kasih telah mengantarkan jawaban yang kubutuhkan.