Source: KLIK!

Lama sudah tak kutulis bait-bait menyirat tentangmu
Menelan bulat-bulat rindu yang tak pantas terucap
Menyibukkan hari tuk membunuh harap

Aku hampir saja putus asa
Berharap hujan membersamai teduh dalam perjalanan
Namun hujan tak lagi pernah pulang
Tak pernah terdengar rindu di luar sana

Musim berganti
Di penghujung senja hujan menyapa
Menghapus kerontang panjang berbulan-bulan
Memancarkan bias-bias memori yang dahulu susah payah disingkirkan
Teriring bingkisan manis dengan nama fiktif yang kutau siapa pengirimnya

Luluh

Lantah

Sudah

Kubilang ingin berhenti tempo hari
Sama sepertimu yang mencoba membebaskan diri
Tak lagi memaksa kaki terus berlari untuk menemukanmu
Tak peduli dimana adamu
Sudah di depan menantiku, ataukah di belakang sana memintaku menunggu
Aku hanya ingin berhenti

Namun bingkisan hujan sore ini membanjiriku dengan tanda tanya yang bertanya mengapa, tanpa punya karena sebagai jawabnya
Diam
Tapi seolah memintaku untuk tetap tinggal
Membebaskanku bermain dengan prasangka dan menduga apa yang terjadi sebenarnya

Tuan..
Bagiku menanti ataupun berhenti adalah dua hal yang cukup menyakitkan
Tapi apa kau tau, ada hal yang jauh lebih menyakitkan dari itu semua
Adalah ketika kita tak tau apakah harus menanti,
ataukah berhenti

Aku tak butuh bingkisan
Aku hanya butuh jawaban