Selamat malam, Tuan. Ingin sekali aku menyapamu. Menanyakan kabarmu setelah sekian lama waktu berlalu. Tapi aku dibelenggu rasa malu.

Tuan, aku ingin bercerita. Aku pernah jatuh hati. Pada sosok sederhana nan bersahaja. Sikapnya amat baik, tentu saja, kalau tidak baik mana mungkin aku rela menjatuhkan hatiku padanya. Sosoknya terlalu pintar, hingga tak bisa membedakan mana perhatian mana peringatan.

Tuan, bukankah sudah sering kukatakan, jangan main-main soal perasaan. Jika tak sungguh-sungguh jangan sembarang berlabuh, lantas ditinggal kembali berlayar jika sudah bosan. Hati perempuan tidak sesederhana itu, Tuan.

Tuan, aku meradang dalam diam. Merangkul erat sabar. Menggenggam secarik rindu yang harusnya kualpakan. Aku kurang mahir dalam urusan memendam. Apalagi soal perasaan. Mengiris hati sendiri dengan percakapan lama yang terus dibaca berulang. Mencincangnya hingga hancur berantakan. Dan itu karenamu, Tuan.

Tuan, aku tak ingin berharap. Tak jua ingin menunggumu kembali menjemputku. Tapi Tuan, aku akan tetap berdiri di sini. Menguatkan diri, untuk kisah yang ditinggal tokohnya pergi.

Tuan, aku yang bodoh ini akan terus mendoakanmu. Meminta Tuhan menjagamu selalu. Karena mungkin kesempatanku telah habis beberapa waktu lalu.


Dari aku,

yang bukan siapa-siapamu.